![]() |
| Bercinta Dengan Roro Fitria Sahabat Istriku |
Zona Dewasa - Kurasa tidak perlu aku ceritakan tentang nama dan asalku, serta tempat dan alamatku sekarang. Usiaku sekarang sudah mendekati tiga puluh tahun, kalau dipikir-pikir seharusnya aku sudah punya anak, karena aku sudah menikah hampir tiga tahun lamanya. Aku cukup beruntung karena mendapat isteri yang menurutku sangat cantik.
Isteriku bernama Resty. Ada satu kebiasaanku yang mungkin jarang orang lain miliki, yaitu keinginan sex yang tinggi. Kadang-kadang pada siang hari selagi ada tamu pun sering saya mengajak isteri saya sebentar ke kamar untuk melakukan hal itu. Yang anehnya, ternyata isteriku pun sangat menikmatinya. Walaupun demikian saya tidak pernah berniat jajan untuk mengimbangi kegilaanku pada sex. Mungkin karena belum punya anak, isteriku pun selalu siap setiap saat.
Prediksi Togel Online - Kegilaan ini dimulai saat hadirnya tetangga baruku, entah siapa yang mulai, kami sangat akrab. Atau mungkin karena isteriku yang supel, sehingga cepat akrab dengannya. Yang lebih istimewa lagi, woow busyet.., selain masih muda juga cantik dan yang membuatku gila adalah body-nya yang wah, juga kulitnya sangat putih mulus.
Dia kontrak ke sini selama 2 tahun. Aku dan isteriku biasa memanggil mereka Mbak Roro. Selebihnya saya tidak tahu latar belakangnya, hanya saja dia pindah ke ibukota untuk merintis karir menjadi artis. Boleh dibilang Resty dan Roro seperti sahabat saja karena hampir setiap hari ngobrol, terkadang di teras rumahnya atau sebaliknya.
Pada suatu malam, Roro seperti biasanya berkunjung ke rumah kami, setelah ngobrol panjang lebar, Resty menawari Roro nonton DVD. Aku yang saat itu di ruang kerja atas mengintip dari balik tirai jendela. Terdengar percakaan dari bawah.
“Yuk… nonton film” ajak istriku.
“Yang agak hot ada nggak.. ehmm” sahut Roro sambil tersenyum.
“Eh… bentar ya…” istriku Resty menjawab dan kemudian mengambil satu keping DVD koleksi kami.
Yang membuatku hatiku berdegup kencang, Roro terlihat begitu serius nontonnya dan sesekali meenghela nafas sehingga membuat buah dadanya terlihat ingin menyembul keluar.
Paginya aku melihat Roro sedang minum teh di balkon teras atasnya. Ketika aku mau membuka pagar, dia menyapaku.
“Berangkat, mas” sapanya.
“Iya nih. Oh ya, bagaimana film tadi malam? Bagus gak?” timpalku sambil memancing sesuatu.
“Bosen mas.. nonton doang. Udah lama gak praktek” jawabnya menggoda.
Mataku jelalatan menatapinya. Busyet.., dasternya hampir transparan menampakkan lekuk tubuhnya yang sejak dulu menggodaku. Tapi ah.., dia kan tetangga dan teman istriku.
Tapi dasar memang pikiranku sudah tidak beres, kutunda keberangkatanku ke kantor, aku kembali ke rumah menemui isteriku. Seperti biasanya kalau sudah begini aku langsung menarik isteriku ke tempat tidur. Mungkin karena sudah biasa Resty tidak banyak protes.
Yang luar biasa adalah pagi ini aku benar-benar gila. Aku bergulat dengan isteriku seperti kesetanan. Kemaluan Resty kujilati sampai tuntas, bahkan kusedot sampai isteriku menjerit. Edan, kok aku sampai segila ini ya, padahal hari masih pagi.Tapi hal itu tidak terpikirkan olehku lagi. Isteriku sampai terengah-engah menikmati apa yang kulakukan terhadapnya. Resty langsung memegang kemaluanku dan mengulumnya, entah kenikmatan apa yang kurasakan saat itu. Sungguh, tidak dapat kuceritakan.
“Mas.., sekarang Mas..!” pinta isteriku memelas.
Akhirnya aku mendekatkan kemaluanku ke lubang kemaluan Resty. Dan tempat tidur kami pun ikut bergoyang hamper 15 menit lamanya.
Setelah kami berdua sama-sama tergolek, tiba-tiba isteriku bertanya, “Kok Mas tiba-tiba nafsu banget sih..?”
Aku diam saja karena malu mengatakan bahwa sebenarnya Roro lah yang menaikkan tensiku pagi ini. Malamnya Roro datang ke rumahku,
“Sepertinya Mas punya kelainan ya..?” tanyanya sambil tersenyum setelah kami berbasa-basi.
“Maksudnya..?” tanyaku heran.
“Tadi pagi aku melihat Mas dan Mbak Resty bergulat”.
Loh, aku heran, dari mana Roro nampak kami melakukannya? Oh iya, baru kusadari ternyata jendela kamar berhadapan dengan balkon teras atasnya.
Menjelang pukul 22.00, Roro bersama isteriku masih ada di ruang TV. Aku masih di teras sambil merokok dan minum kopi. Tak lama kemudian, Roro pamit pulang dan Resty pun berangkat tidur ke kamar.
“Tidur sini saja mbak kalau takut di rumah sendiRoron.”. sapaku ketika dia pamit pulang. Maklum, waktu itu mereka lagi nonton film horror.
cerita dewasa roro fitria cerita dewasa 17 tahun roro fitria cerita dewasa bergambar roro fitria
“Iih.. sungkan mas. Saya kalau tidur suka aneh-aneh” candanya.
“Aneh-aneh yang gimana nih..?” godaku.
“Ahh.. mas mau tahu saja. Pagar dan pintu rumah gak aku kunci deh malam ini kalau mas penasaran” jawabnya dengan genit.
Jam menunjukkan pukul 24.00. Resty sudah tertidur pulas. Aku masih terjaga karena penasaran ucapan Roro tadi. Perlahan aku bangkit dari tempat tidur dan melangkah ke teras depan. Suasana sepi. Karena masih penasaran, kuputuskan untuk mencoba menyeberang menuju rumah Roro untuk mrmbuktikan apakah memang benar pagarnya tidak tergembok.
“Wow.. Ini mungkin undangan beneran nih”.
Perlahan aku membuka pagar dan menutupnya kembali. Sesampai di pintu depan, kuputar kenop pintu dengan hati-hati sambil mengawasi suasana luar. Masih sepi. Aku pun sudah leluasa di dalam rumah Roro.
Roro tergeletak tidur di ranjang. “Busyet, gak pakai baju nih orang. Cuma baju tidur dari kain satin tipis warna putih dan menerawang”.
Kebetulan ruangan kamar Roro cukup terang sehingga kemolekan tubuhnya terpapar dengan jelas. Yang lebih mengagetkanku, ternyata dia nggak pakai cd sehingga memeknya terlihat samar-samar dibalik kain satin.
Aku terbengong sambil duduk di kursi perabot Roros di dalam kamar itu. Mr P sudah menegang. Kucopot celana pendek dan cd yang dari radi mengekang mr P 16 O3 (Panjang 16 cm dan diameter 3 cm) untuk keluar sarang. Kebetulan di situ ada baby oil dan kuoleskan ke “barang” berharga tsb. Aku benar-benar menikmati pemandangan ini sambil mengocoknya. Sudah maksimal nih ereksinya.
Perlahan-lahan aku mendekat ke ranjang dan mulai menyingkap baju Roro. Jari-jemari tangan kiriku mendekati daerah kemaluan Roro. Kubelai bibir vaginanya naik turun dengan ujung jari tengah sampai bagian atas yang menonjol seoerti biji kacang.
Roro mndesah. “ uuhhffff…terus mas”
“Eehh.. Lu sudah sadar. Gak benar-benar tidur nih…” jawabku sambil menenangkan diri karena kaget.
“Peluklah aku Mas, tolonglah Mas..!” erang Roro seolah sudah siap untuk melakukannya.
Tetapi aku belum mau melakukannya. Aku ingin memberikan kenikmatan kepadanya malam ini. Kutatapi seluruh bagian tubuh Roro yang memang betul-betul sempurna. Biasanya aku hanya dapat melihatnya dari kejauhan, itu pun dengan terhalang pakaian. Berbeda kini bukan hanya melihat, tapi dapat menikmati. Sungguh, ini suatu yang luar biasa.
Kemudian kujilati seluruhnya tanpa sisa, sementara tangan kiriku tetap memainkan kemaluannya yang ditumbuhi bulu hitam halus yang tidak begitu tebal. Bagian ini terasa sangat lembut sekali, mulut kemaluannya sudah mulai basah. Perlahan kumasukkan jari telunjukku ke dalam.
“Sshh.., akh..!” Roro menggelinjang nikmat.
Kuteruskan melakukannya, kini lebih dalam dan menggunakan dua jari, Roro mendesis. Tidak pernah terduga olehku. Seperti ingin melahapnya saja. Kini mulutku menuju dua bukit menonjol di dada Roro, kuhisap bagian putingnya, tubuh Roro bergetar panas. Tiba-tiba tangannya meraih kemaluanku, menggenggam dengan kedua telapaknya seolah takut lepas. Posisi Roro sekarang berbaring miring, sementara aku berlutut, sehingga kemaluanku tepat ke mulutnya. Perlahan dia mulai menjilati kemaluanku. Gantian badanku sekarang yang bergetar hebat.
Roro memasukkan kemaluanku ke dalam mulutnya. Ya ampun, hampir aku tidak sanggup menikmatinya. Luar biasa enaknya, sungguh..! Belum pernah kurasakan seperti ini.
Kini tiga jari kumasukkan ke dalam kemaluan Roro, dia melenguh hebat hingga kemaluanku terlepas dari mulutnya.
“Aaauuuuuuhhhgggh..”.
Gantian aku sekarang yang menciumi kemaluannya. Kepalaku seperti terjepit diantara kedua belah pahanya yang mulus. Kujulurkan lidahku sepanjang-panjangnya dan kumasukkan ke dalam kemaluannya sambil kupermainkan di dalamnya. Aroma dan rasanya semakin memuncakkan nafsuku.
“Sssshh… Sshh… akh...!”
Sekarang Roro terengah-engah dan kemudian menjerit tertahan meminta supaya aku segera memasukkan kemaluanku ke lubangnya. Cepat-cepat kurengkuh kedua pahanya dan menariknya ke pinggir ranjang, kutekuk lututnya dan kubuka pahanya lebar-lebar supaya aku dapat memasukkan kemaluanku sambil berjongkok. Perlahan-lahan kuarahkan senjataku menuju lubang milik Roro.
Ketika kepala kemaluanku memasuki lubang itu, Roro mendesis, “Oouughhh, aduh enaknya..! Terus Mas, masukkan lagi, akhh..!”
Dengan pasti kumasukkan lebih dalam sambil sesekali menarik sedikit dan mendorongnya lagi. Ada kenikmatan luar biasa yang kurasakan ketika aku melakukannya. Mungkin karena selama ini aku hanya melakukannya dengan isteriku, kali ini ada sesuatu yang tidak pernah kurasakan sebelumnya. Tanganku sekarang sudah meremas payudara Roro dengan lembut sambil mengusapnya. Mulut Roro pun seperti megap-megap kenikmatan, segera kulumat bibir itu hingga Roro nyaris tidak dapat bernapas, kutindih dan kudekap sekuat-kuatnya hingga Roro berontak.
Pelukanku semakin kuperketat, seolah-olah tidak akan lepas lagi. Keringat sudah membasahi seluruh tubuh kami. Pantatku masih naik turun di antara kedua paha Roro. Luar biasa kemaluan Roro ini, seperti ada penyedot saja di dalamnya. Kemaluanku seolah tertarik ke dalam. Dinding-dindingnya seperti lingkaran magnet saja. Mata Roro merem melek menikmati permainan ini.
“Mmmas… terus…” erangan Roro semakin menjadi-jadi.
Erangannya tidak pernah putus, sementara helaan napasnya memburu terengah-engah.
Posisi sekarang berubah, Roro sekarang membungkuk sambil memegang kedua sisi ranjang, sementara saya dari belakangnya dengan berdiri memasukkan kemaluanku. Hal ini cukup sulit, karena selain ukuran kemaluanku lumayan besar, lubang kemaluan Roro juga semakin ketat karena membungkuk.
Kukangkangkan kaki Roro dengan cara melebarkan jarak antara kedua kakinya. Perlahan kucoba memasukkan senjataku. Kali ini berhasil, tapi Roro melenguh nyaring, perlahan-lahan kudorong kemaluanku sambil sesekali menariknya. Lubangnya terasa sempit sekali. Beberapa saat, tiba-tiba ada cairan milik Roro membasahi lubang dan kemaluanku hingga terasa nikmat sekarang. Kembali kudorong senjataku dan kutarik sedikit. Goyanganku semakin lincah, pantatku maju mundur beraturan.
“Plook… plok… plok…” terdengar suara persetubuhan terlarang tersebut semakin menggelora.
Sepertinya Roro pun menikmati gaya ini. Buah dada Roro bergoyang-goyang juga maju-mundur mengikuti irama yang berasal dari pantatku. Kuremas buah dada itu, kulihat Roro sudah tidak kuasa menahan sesuatu yang tidak kumengerti apa itu. Erangannya semakin panjang. Kecepatan pun kutambah, goyangan pinggul Roro semakin kuat. Tubuhku terasa semakin panas. Ada sesuatu yang terdorong dari dalam yang tidak kuasa aku menahannya. Sepertinya menjalar menuju kemaluanku. Aku masih berusaha menahannya.
Segera aku mencabut kemaluanku dan menyuruh Roro telentang. Secepatnya aku menindihnya sambil menekuk kedua kakinya sampai kedua ujung lututnya menempel ke perut, sehingga kini tampak kemaluan Roro menyembul mendongak ke atas menantangku. Segera kumasukkan senjataku kembali ke dalam lubang kemaluan Roro.
Pantatku kembali naik turun berirama, tapi kali ini lebih kencang seperti akan mencapai finish saja. Suara yang terdengar dari mulut Roro semakin tidak karuan, seolah menikmati setiap sesuatu yang kulakukan padanya. Tiba-tiba Roro memelukku sekuat-kuatnya. Goyanganku pun semakin menjadi. Aku pun berteriak sejadinya, terasa ada sesuatu keluar dari kemaluanku.
“Oouuuuugggffffhhhhh…”
Roro menggigit leherku sekuat-kuatnya, segera kurebut bibirnya dan menggigitnya sekuatnya, Roro menjerit kesakitan sambil bergetar hebat.
“Aaagghh… Roro daa ppeeet, mmaaass…”
Mulutku terasa asin, ternyata bibir Roro berdarah, tapi seolah kami tidak memperdulikannya, kami seolah terikat kuat dan berguling-guling. Roro tidak mau melepaskan kemaluanku dari dalam kemaluannya, kedua ujung tumit kakinya masih menekan kedua pantatku. Tidak kusadari seluruh cairan yang keluar dari kemaluanku masuk ke liang milik Roro. Kulihat Roro tidak memperdulikannya. Perlahan-lahan otot-ototku mengendur, dan akhirnya kemaluanku terlepas dari kemaluan Roro. Roro tersenyum puas, walau kelelahan aku pun merasakan kenikmatan tiada tara.
“Iya nih. Oh ya, bagaimana film tadi malam? Bagus gak?” timpalku sambil memancing sesuatu.
“Bosen mas.. nonton doang. Udah lama gak praktek” jawabnya menggoda.
Mataku jelalatan menatapinya. Busyet.., dasternya hampir transparan menampakkan lekuk tubuhnya yang sejak dulu menggodaku. Tapi ah.., dia kan tetangga dan teman istriku.
Tapi dasar memang pikiranku sudah tidak beres, kutunda keberangkatanku ke kantor, aku kembali ke rumah menemui isteriku. Seperti biasanya kalau sudah begini aku langsung menarik isteriku ke tempat tidur. Mungkin karena sudah biasa Resty tidak banyak protes.
Yang luar biasa adalah pagi ini aku benar-benar gila. Aku bergulat dengan isteriku seperti kesetanan. Kemaluan Resty kujilati sampai tuntas, bahkan kusedot sampai isteriku menjerit. Edan, kok aku sampai segila ini ya, padahal hari masih pagi.Tapi hal itu tidak terpikirkan olehku lagi. Isteriku sampai terengah-engah menikmati apa yang kulakukan terhadapnya. Resty langsung memegang kemaluanku dan mengulumnya, entah kenikmatan apa yang kurasakan saat itu. Sungguh, tidak dapat kuceritakan.
“Mas.., sekarang Mas..!” pinta isteriku memelas.
Akhirnya aku mendekatkan kemaluanku ke lubang kemaluan Resty. Dan tempat tidur kami pun ikut bergoyang hamper 15 menit lamanya.
Setelah kami berdua sama-sama tergolek, tiba-tiba isteriku bertanya, “Kok Mas tiba-tiba nafsu banget sih..?”
Aku diam saja karena malu mengatakan bahwa sebenarnya Roro lah yang menaikkan tensiku pagi ini. Malamnya Roro datang ke rumahku,
“Sepertinya Mas punya kelainan ya..?” tanyanya sambil tersenyum setelah kami berbasa-basi.
“Maksudnya..?” tanyaku heran.
“Tadi pagi aku melihat Mas dan Mbak Resty bergulat”.
Loh, aku heran, dari mana Roro nampak kami melakukannya? Oh iya, baru kusadari ternyata jendela kamar berhadapan dengan balkon teras atasnya.
Menjelang pukul 22.00, Roro bersama isteriku masih ada di ruang TV. Aku masih di teras sambil merokok dan minum kopi. Tak lama kemudian, Roro pamit pulang dan Resty pun berangkat tidur ke kamar.
“Tidur sini saja mbak kalau takut di rumah sendiRoron.”. sapaku ketika dia pamit pulang. Maklum, waktu itu mereka lagi nonton film horror.
cerita dewasa roro fitria cerita dewasa 17 tahun roro fitria cerita dewasa bergambar roro fitria
“Iih.. sungkan mas. Saya kalau tidur suka aneh-aneh” candanya.
“Aneh-aneh yang gimana nih..?” godaku.
“Ahh.. mas mau tahu saja. Pagar dan pintu rumah gak aku kunci deh malam ini kalau mas penasaran” jawabnya dengan genit.
Jam menunjukkan pukul 24.00. Resty sudah tertidur pulas. Aku masih terjaga karena penasaran ucapan Roro tadi. Perlahan aku bangkit dari tempat tidur dan melangkah ke teras depan. Suasana sepi. Karena masih penasaran, kuputuskan untuk mencoba menyeberang menuju rumah Roro untuk mrmbuktikan apakah memang benar pagarnya tidak tergembok.
“Wow.. Ini mungkin undangan beneran nih”.
Perlahan aku membuka pagar dan menutupnya kembali. Sesampai di pintu depan, kuputar kenop pintu dengan hati-hati sambil mengawasi suasana luar. Masih sepi. Aku pun sudah leluasa di dalam rumah Roro.
Roro tergeletak tidur di ranjang. “Busyet, gak pakai baju nih orang. Cuma baju tidur dari kain satin tipis warna putih dan menerawang”.
Kebetulan ruangan kamar Roro cukup terang sehingga kemolekan tubuhnya terpapar dengan jelas. Yang lebih mengagetkanku, ternyata dia nggak pakai cd sehingga memeknya terlihat samar-samar dibalik kain satin.
Aku terbengong sambil duduk di kursi perabot Roros di dalam kamar itu. Mr P sudah menegang. Kucopot celana pendek dan cd yang dari radi mengekang mr P 16 O3 (Panjang 16 cm dan diameter 3 cm) untuk keluar sarang. Kebetulan di situ ada baby oil dan kuoleskan ke “barang” berharga tsb. Aku benar-benar menikmati pemandangan ini sambil mengocoknya. Sudah maksimal nih ereksinya.
Perlahan-lahan aku mendekat ke ranjang dan mulai menyingkap baju Roro. Jari-jemari tangan kiriku mendekati daerah kemaluan Roro. Kubelai bibir vaginanya naik turun dengan ujung jari tengah sampai bagian atas yang menonjol seoerti biji kacang.
Roro mndesah. “ uuhhffff…terus mas”
“Eehh.. Lu sudah sadar. Gak benar-benar tidur nih…” jawabku sambil menenangkan diri karena kaget.
“Peluklah aku Mas, tolonglah Mas..!” erang Roro seolah sudah siap untuk melakukannya.
Tetapi aku belum mau melakukannya. Aku ingin memberikan kenikmatan kepadanya malam ini. Kutatapi seluruh bagian tubuh Roro yang memang betul-betul sempurna. Biasanya aku hanya dapat melihatnya dari kejauhan, itu pun dengan terhalang pakaian. Berbeda kini bukan hanya melihat, tapi dapat menikmati. Sungguh, ini suatu yang luar biasa.
Kemudian kujilati seluruhnya tanpa sisa, sementara tangan kiriku tetap memainkan kemaluannya yang ditumbuhi bulu hitam halus yang tidak begitu tebal. Bagian ini terasa sangat lembut sekali, mulut kemaluannya sudah mulai basah. Perlahan kumasukkan jari telunjukku ke dalam.
“Sshh.., akh..!” Roro menggelinjang nikmat.
Kuteruskan melakukannya, kini lebih dalam dan menggunakan dua jari, Roro mendesis. Tidak pernah terduga olehku. Seperti ingin melahapnya saja. Kini mulutku menuju dua bukit menonjol di dada Roro, kuhisap bagian putingnya, tubuh Roro bergetar panas. Tiba-tiba tangannya meraih kemaluanku, menggenggam dengan kedua telapaknya seolah takut lepas. Posisi Roro sekarang berbaring miring, sementara aku berlutut, sehingga kemaluanku tepat ke mulutnya. Perlahan dia mulai menjilati kemaluanku. Gantian badanku sekarang yang bergetar hebat.
Roro memasukkan kemaluanku ke dalam mulutnya. Ya ampun, hampir aku tidak sanggup menikmatinya. Luar biasa enaknya, sungguh..! Belum pernah kurasakan seperti ini.
Kini tiga jari kumasukkan ke dalam kemaluan Roro, dia melenguh hebat hingga kemaluanku terlepas dari mulutnya.
“Aaauuuuuuhhhgggh..”.
Gantian aku sekarang yang menciumi kemaluannya. Kepalaku seperti terjepit diantara kedua belah pahanya yang mulus. Kujulurkan lidahku sepanjang-panjangnya dan kumasukkan ke dalam kemaluannya sambil kupermainkan di dalamnya. Aroma dan rasanya semakin memuncakkan nafsuku.
“Sssshh… Sshh… akh...!”
Sekarang Roro terengah-engah dan kemudian menjerit tertahan meminta supaya aku segera memasukkan kemaluanku ke lubangnya. Cepat-cepat kurengkuh kedua pahanya dan menariknya ke pinggir ranjang, kutekuk lututnya dan kubuka pahanya lebar-lebar supaya aku dapat memasukkan kemaluanku sambil berjongkok. Perlahan-lahan kuarahkan senjataku menuju lubang milik Roro.
Ketika kepala kemaluanku memasuki lubang itu, Roro mendesis, “Oouughhh, aduh enaknya..! Terus Mas, masukkan lagi, akhh..!”
Dengan pasti kumasukkan lebih dalam sambil sesekali menarik sedikit dan mendorongnya lagi. Ada kenikmatan luar biasa yang kurasakan ketika aku melakukannya. Mungkin karena selama ini aku hanya melakukannya dengan isteriku, kali ini ada sesuatu yang tidak pernah kurasakan sebelumnya. Tanganku sekarang sudah meremas payudara Roro dengan lembut sambil mengusapnya. Mulut Roro pun seperti megap-megap kenikmatan, segera kulumat bibir itu hingga Roro nyaris tidak dapat bernapas, kutindih dan kudekap sekuat-kuatnya hingga Roro berontak.
Pelukanku semakin kuperketat, seolah-olah tidak akan lepas lagi. Keringat sudah membasahi seluruh tubuh kami. Pantatku masih naik turun di antara kedua paha Roro. Luar biasa kemaluan Roro ini, seperti ada penyedot saja di dalamnya. Kemaluanku seolah tertarik ke dalam. Dinding-dindingnya seperti lingkaran magnet saja. Mata Roro merem melek menikmati permainan ini.
“Mmmas… terus…” erangan Roro semakin menjadi-jadi.
Erangannya tidak pernah putus, sementara helaan napasnya memburu terengah-engah.
Posisi sekarang berubah, Roro sekarang membungkuk sambil memegang kedua sisi ranjang, sementara saya dari belakangnya dengan berdiri memasukkan kemaluanku. Hal ini cukup sulit, karena selain ukuran kemaluanku lumayan besar, lubang kemaluan Roro juga semakin ketat karena membungkuk.
Kukangkangkan kaki Roro dengan cara melebarkan jarak antara kedua kakinya. Perlahan kucoba memasukkan senjataku. Kali ini berhasil, tapi Roro melenguh nyaring, perlahan-lahan kudorong kemaluanku sambil sesekali menariknya. Lubangnya terasa sempit sekali. Beberapa saat, tiba-tiba ada cairan milik Roro membasahi lubang dan kemaluanku hingga terasa nikmat sekarang. Kembali kudorong senjataku dan kutarik sedikit. Goyanganku semakin lincah, pantatku maju mundur beraturan.
“Plook… plok… plok…” terdengar suara persetubuhan terlarang tersebut semakin menggelora.
Sepertinya Roro pun menikmati gaya ini. Buah dada Roro bergoyang-goyang juga maju-mundur mengikuti irama yang berasal dari pantatku. Kuremas buah dada itu, kulihat Roro sudah tidak kuasa menahan sesuatu yang tidak kumengerti apa itu. Erangannya semakin panjang. Kecepatan pun kutambah, goyangan pinggul Roro semakin kuat. Tubuhku terasa semakin panas. Ada sesuatu yang terdorong dari dalam yang tidak kuasa aku menahannya. Sepertinya menjalar menuju kemaluanku. Aku masih berusaha menahannya.
Segera aku mencabut kemaluanku dan menyuruh Roro telentang. Secepatnya aku menindihnya sambil menekuk kedua kakinya sampai kedua ujung lututnya menempel ke perut, sehingga kini tampak kemaluan Roro menyembul mendongak ke atas menantangku. Segera kumasukkan senjataku kembali ke dalam lubang kemaluan Roro.
Pantatku kembali naik turun berirama, tapi kali ini lebih kencang seperti akan mencapai finish saja. Suara yang terdengar dari mulut Roro semakin tidak karuan, seolah menikmati setiap sesuatu yang kulakukan padanya. Tiba-tiba Roro memelukku sekuat-kuatnya. Goyanganku pun semakin menjadi. Aku pun berteriak sejadinya, terasa ada sesuatu keluar dari kemaluanku.
“Oouuuuugggffffhhhhh…”
Roro menggigit leherku sekuat-kuatnya, segera kurebut bibirnya dan menggigitnya sekuatnya, Roro menjerit kesakitan sambil bergetar hebat.
“Aaagghh… Roro daa ppeeet, mmaaass…”
Mulutku terasa asin, ternyata bibir Roro berdarah, tapi seolah kami tidak memperdulikannya, kami seolah terikat kuat dan berguling-guling. Roro tidak mau melepaskan kemaluanku dari dalam kemaluannya, kedua ujung tumit kakinya masih menekan kedua pantatku. Tidak kusadari seluruh cairan yang keluar dari kemaluanku masuk ke liang milik Roro. Kulihat Roro tidak memperdulikannya. Perlahan-lahan otot-ototku mengendur, dan akhirnya kemaluanku terlepas dari kemaluan Roro. Roro tersenyum puas, walau kelelahan aku pun merasakan kenikmatan tiada tara.






Tidak ada komentar:
Posting Komentar